Senin, 24 November 2008

SPIRIT FROM MY FATHER


In memorian H. Amrullah Mahdi, 6 Juni 1938 – 4 Nopember 2008

Hari yang sangat penting buat saya, 4 Nopember 2008. Dua minggu sebelumnya saya sudah mencari tahu apa saja yang akan terjadi di hari itu dan hari-hari sebelum dan sesudahnya. Pembukaan Muktamar VI KAMMI bertepatan pada hari itu. Masih terasa nuansa Hari sumpah Pemuda, Hari Pahlawan, dan sekali lagi tentang masa depan generasi muda, bertepatan pula dengan perhelatan Pemilu di AS - saya agak concern karena baru mengikuti program international visitor leadership terkait kampanye di sana -. Tapi saya dan semua orang tidak mengira, itulah hari ayahku menghadap ke haribaan Sang Pencipta. Aku sangat kehilangan ayahku, sama sekali belum punya firasat sebelumnya. 

Yang aku tahu, ayah sakit karena keletihan. Ayah ingin menuntaskan tugas-tugasnya sebelum ‘pergi’. Kebun kopi dan lada yang rimbun dan siap dipetik menjadi saksi kerja keras Ayah. ‘saya ingin terus bekerja dan menuntaskan pekerjaanku sebelum pergi. Aku tahu selain sebagai pendidik, ayah sangat suka bepergian, baginya melihat dunia yang terhampar luas adalah kekayaan yang berharga, ribuan mil telah ayah lalui, ratusan kota dan negeri telah disinggahi, dan itu prasasti berharga bagi kami anak-anaknya.

Puasa Ramadhan terakhir ayah sempurna 30 hari, ditambah puasa Syawal yang kurang sehari lagi. Ayah ber-lebaran di kampung ibunya, menziarahi makam sang ibu di Randangan Enrekang Sulsel - mungkin sebagai penanda bahwa ayah segera menyusul -, sebelum akhirnya jatuh sakit, 3 pekan dirawat dan meninggal ‘dalam perjalanan’. Ayah meninggal dalam perjalanan dari ruang ICU ke ruang perawatan di RS Plamonia Makasar, mungkin seperti keinginan beliau, tak ingin meninggal dalam tatapan dan derai tangisan istri dan anak serta kerabat dekatnya. Hanya kak Arif anaknya yang menyaksikan prosesi ‘sakratul maut’ ayah, sangat tenang, seperti tertidur. 

Sehari sebelumnya saya datang dan menanyakan kondisi ayah, tak ada jawaban. Hanya tatapan mata ayah yang sedikit menyipit sambil menyodorkan tangannya. Aku langsung mencium tangan itu dan membelai rambut beliau agar tertidur, napas tersengal dalam bantuan oksigen dan beberapa alat bantu di kepala dan kaki. Aku bersedih sekali tidak bisa berlama-lama karena dalam tekanan pekerjaan, Muktamar KAMMI. Malam hari aku gelisah sekali, bercampur aduk antara tekanan menjelang Muktamar dengan kondisi kritis ayah. Tepat jam dua siang setelah pembukaan Muktamar VI KAMMI usai, dalam perjalanan menemani teman-teman ketua OKP makan siang, sebelum sempat mampir saya mendapat telpon dari kak Arif, ayah telah pergi. Aku tak ingin menangis di mobil, diam dan berusaha tenang, segera saya ke RS dan mendapati satu wajah yang benar-benar bersih dan seperti tertidur pulas, ayah tak ingin diganggu lagi. Aku mencium kening ayah dan menenangkan ibu, sebelum saya juga tak kuasa lagi menahan tangis. Aku menyesal sekali tidak membersamai hari-hari ayah di penghujung hayatnya.

Lebih menyesal lagi, saya merasa banyak menunda kesempatan untuk berlama-lama bersama ayah dan keluarga karena merasa sangat sibuk dengan pekerjaan dan mengurus KAMMI. ‘saya ingin tuntaskan semuanya dulu ayah, selepas Muktamar kita akan punya waktu banyak, saya ingin ayah ke Jakarta lagi’, dan ayah senang dengan itu semua. 

Lebaran Idul Fitri 1429, harusnya saya ke rumah orang tua. Namun menyesal, saya menunda untuk sekalian saja pas menjelang Muktamar KAMMI, juga karena saya menyiapkan pindah ke rumah kontrakan. Ayah sempat merasa sepi, sangat ingin melihat ketujuh anaknya. Saat jatuh sakit kami berkumpul di Makasar. Ayah menanyakan kesiapan kami mengurus jenazah, namun kami anggap itu bukan firasat yang benar, Ayah kembali membaik dan bersiap keluar RS. Kami (Aku, k Sabar dan k Hasyim) pun kembali lagi ke tempat masing-masing, kecuali kedua kakak saya Alen dan Arif bersama Ibu, k Aty dan k Amin yang bergantian menjaga Ayah di rumah. 
Namun rupanya sakit Ayah kembali kambuh, gula darahnya makin menjadi. Lalu dibawa ke RS lagi langsung ke ICU. 5 hari di ruang ICU, berkali-kali Ayah minta dipindah, ingin alat-alat ditubuhnya dicabut. Rupanya Ayah sudah memberi ‘pesan’ akan kepergiannya. Ayahku telah tiada.

H. Amrullah Mahdi dilahirkan di Enrekang Sulawesi Selatan pada 6 Juni 1938 (pas berbeda 42 tahun dengan saya yang lahir 6 Juni 1980). Ayah adalah seorang pendidik, selepas menyelesaikan pendidikan guru di kota Pare-Pare Sulsel beliau mengajar ilmu-ilmu sejarah dan sosial di SMP Islam Malua. Banyak yang mengenalnya selain sebagai guru juga seorang pemain sepakbola yang hebat. Seorang pejabat mantan wakil Bupati di kabupaten mengenalinya sebagai guru yang penuh inspirasi, ramah dan cerdas. Sayang pergolakan pada saat itu membuat ayah tidak dapat meneruskan profesinya sebagai pengajar. Ayah mencari rezeki hingga Kalimantan, Sabah, Brunei, lalu menetap di Kendari Sulawesi Tenggara. Selain itu juga terlibat aktif hingga sempat menjadi pimpinan ormas Muhammadiyah daerah setempat. Sangat rajin membaca, bergaul dengan setiap kalangan dari pejabat hingga orang naif sekalipun. Ayah berlangganan majalah-majalah terbitan Muhammadiyah dan Hidayatullah, mengoleksi buku-buku sejarah Islam, kitab-kitab dan tafsir. Setiap lelah bekerja, pasti ayah di kamar atau di teras depan membaca.

Masa kecil saya adalah kebersamaan yang sangat berarti bersama ayah. Satu yang tak terlupakan, bila musim ulangan (ujian semester) tiba, ayah selalu menyuruh belajar dan tidak boleh bekerja membantu beliau, tidak perlu ke kebun dan lainnya. Hasilnya saya selalu menjadi yang terbaik di sekolah. Saat saya dinobatkan sebagai siswa teladan SMP di Kabupaten, ayah yang mengantarku hingga ke kota Enrekang, menginap di kerabat sekaligus sahabat ayah sebelum berangkat ke Ujung Pandang. Aku pernah merasa malu pada ayah saat saya dapat rangking 20 di SD karena nakal, tapi aku membayarnya dengan menjadi yang terbaik saat di SMU. 

Ayah tidak pernah lupa memberiku sesuatu, terutama nasehat dan uang, sesulit apapun. Ayah yang mengajariku naik podium, berpidato, ceramah, dan mengajari doa-doa menguasai forum. Setiap kali ada ceramah tarwih yang menarik, ayah meminta mencontohnya di depannya. Kadang tugas ceramah Ayah diserahkan kepadaku tanpa persiapan terlebih dahulu, untuk mengajarkan kesigapan. Ayah mencontohkan ketaatan beragama, sholat berjamaah di masjid terutama Subuh, menamatkan bacaan Qur’an terutama bulan Ramadhan. Ayah mengajari bekerja, hidup mandiri dan tahan banting, dan terutama keyakinan.

Ayah adalah bagian penting dalam hidupku, kami sekeluarga. Beliau inspirasi, satu kolam kehidupan yang cahayanya memantul ke setiap sudut. Aku mendapatkan berita-berita positif dari setiap sahabat, kolega, kerabat, teman organisasi dan bahkan pemuda-pemuda di kampung. Seorang teman di kampung memberi nama anaknya Amrullah untuk mencontoh kehidupan ayah. Walaupun Ayah sebagai manusia juga sarat kekurangan dan kekhilafan. Namun biarkan kami mengenang masa-masa terindah bersama Ayah. Aku ingin membuat cerita lebih banyak untuk mengenang Ayah, I love You Dad. Spirit from my Father is my Life...

Senin, 17 November 2008

Jalur Kepahlawanan Kaum Muda

Refleksi Hari Pahlawan

Pahlawan adalah gelar bagi pejuang yang telah gugur membela bangsa dan negara. Mereka yang mengharumkan nama negeri dalam berbagai jalur pengabdian, seperti pahlawan tanpa tanda jasa (guru), pahlawan olahraga dan seni, pahlawan devisa, selanjutnya juga diberi predikat pahlawan.
Dahulu Soekarno, Hatta, Sjahrir dan kawan kawannya mengambil jalur diplomasi dan politik untuk melepaskan penjajahan dan memproklamirkan kemerdekaan, Bung Tomo sang pejuang pembela merah putih di hari pahlawan 10 nopember menjadi pahlawan mempertahankan kemerdekaan 1945, Ki Hajar Dewantara dan tiga serangkainya, Wahidin Sudirohusodo dan lainnya mengambil jalur pendidikan dan budaya. Meniti jalur pengabdiannya tapi semuanya dikenang sebagai pahlawan nasional.

Pahlawan Karena Kontribusi
Mereka yang kita sebut pahlawan, mereka yang telah mempertaruhkan hidupnya untuk pengabdian tanpa batas untuk bangsa dan negara. Totalitas, kata yang tepat untuk menggambarkannya. Aktivisme yang dibangun adalah kontribusi sepenuhnya untuk bangsa. Bertemu dalam suatu kepentingan sama, kemerdekan dan kejayaan bangsa Indonesia.
Jika pahlawan kebanyakan adalah para pemimpin, itu karena karakter kepemimpinan yang melekat pada diri seorang pahlawan sejati. Mereka yang mengabdikan diri sebagai pemimpin adalah mereka yang meretas jalur kepahlawanan. Menjadi pemimpin berarti bersiap untuk berpikir dan berjuang sepenuhnya untuk masa depan rakyat, bangsa dan negara. Sebagian besar orang berpikir untuk diri dan masa depannya sendiri, sedikit orang yang berjuang untuk komunitasnya dan lebih sedikit lagi yang berjuang untuk kemajuan bangsa dan umat manusia. Apa yang diungkapkan Shirin Ebadi (Seorang wanita Iran peraih Nobel Perdamaian) bahwa aktivisme untuk umat manusia adalah harga yang dibayar atas kehadiran kita di bumi, cukup untuk membangkitkan semangat perjuangan untuk kebangkitan bangsa.

Inspirasi dan Semangat Kepahlawanan
Banyak inspirasi yang bisa terlahir dari memperingati hari pahlawan 10 Nopember, terutama bagi pemuda. Semangat kepahlawanan menjadi titik tolak lahirnya pahlawan-pahlawan muda yang kuat dan tegar, menantang perubahan menembus batas jamannya. Pemimpin muda lahir dan dibentuk oleh jamannya, menghadapi tantangan yang berat dan rumit.
Soekarno yang menjadi Presiden RI pada usia relatif muda (44 tahun) meretas jalan kepahlawanannya dengan menindaklanjuti Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dengan mendeklarasikan Nusantara Indonesia tahun 1957. Tekad pemuda dalam satu Indonesia harus diartikan bahwa laut-laut antar pulau Indonesia termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya, udara di atas darat dan lautnya serta kekayaan alam di dalamnya adalah bagian dari tanah air Indonesia, dimana sebelumnya laut antar pulau Indonesia masih merupakan wilayah bebas tanpa pemilik. Sehingga luas wilayah kedaulatan Indonesia meningkat lebih dua kali lipatnya (dari 2.140.000 km2 menjadi 5.193.250 km2).
Banyak cerita kepahlawanan dalam kisah sejarah bangsa kita yang melibatkan heroisme pemuda. Bagaimana semangat pemuda mendorong para pemimpin revolusi mendeklarasikan kemerdekaan dengan membawanya ke Rengasdengklok 'memaksa' memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pelajaran pemimpin besar TNI Jenderal Sudirman bergerilya di tengah derita sakitnya. Atau Moh. Natsir dengan politik parlemen dan diplomasinya melalui Masyumi dan sebagai Perdana Menteri.

Hanya pemimpin yang mempunyai kematangan yang mampu tampil sebagai pahlawan sejati bagi bangsa dan umat yang dipimpinnya. Mereka yang berhasil keluar dari krisis dan masa-masa sulit akan banyak mengambil manfaat dari kemajuan bangsa. Seorang pemimpin adalah mereka yang berhasil menapak hingga puncak dengan berbagai rintangan, godaan, penderitaan, rasa kesepian, tanggungjawab dan resiko tinggi.
Pelajaran penting dari para pahlawan adalah semangat berkorban untuk generasi penerusnya. Mereka yang hadir untuk memberi daripada meminta, dan mereka yang dirasakan kehadiran dan manfaatnya, akan selalu dikenang sepanjang jaman. Semua orang merasakan dorongan untuk berperilaku sebagai pahlawan, namun dunia selalu menyediakan sedikit manusia yang demikian. Mari kita refleksikan dengan kepemimpinan bangsa kita.

Kepemimpinan selalu berbicara tentang minimal empat landasan, yakni visi, kepercayaan (trust), komunikasi, dan komitmen. Pemimpin dilahirkan atau dibentuk akan menjadi relevan jika karakternya memenuhi syarat kepemimpinan. Visi merupakan ciri utama dari pemimpin, kemampuan menggambarkan dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik adalah tugas pokok seorang pemimpin. Sedangkan kepercayaan (trust) adalah modal penting yang harus dimilikinya, komunikasi dan komitmen adalah artikulasi gagasan yang harus benar-benar clear agar amanah kepemimpinan dapat dijalankan dengan sempurna. Dapatkah pemimpin kita saat ini menunaikan visi kebangsaan? Masih ingatkah dengan enam visi reformasi? Apakah demokrasi ekonomi dan politik sudah benar-benar kita rasakan?
Kita membutuhkan semangat baru untuk melanjutkan kehidupan berbangsa yang lebih terarah. Sebuah nuansa baru yang membawa pencerahan bagi kemajuan bangsa. Apakah kaum muda mampu menjawab tantangan perubahan ini dan menuliskan sejarahnya sendiri, atau menyerah pada garis takdir masa depan bangsa bagaimana adanya?

Kepahlawanan Kaum Muda
Tersedia banyak jalan bagi kaum muda dalam meniti jalan kepahlawanannya. Berbagai bidang kehidupan di negeri ini tidak terolah dengan baik. Apakah karena kekurangan sumber daya dan teknologi atau kesalahan pelakunya? Yang pasti, hari ini adalah sejarah bagi yang merintis dan memperjuangkan jalan baru bagi bangsa yang tengah terpuruk.
Naif bila kaum muda tinggal diam dan menerima keadaan yang disodorkan begitu saja. Ekonomi yang carut marut ditandai dengan kemiskinan dan pengangguran meningkat, sektor riil tidak berputar seindah makroekonomi, perebutan kekuasaan antar partai politik, feodalisme politik yang semakin terasa, menipisnya semangat nasionalisme dan kemandirian bangsa dengan semangat menjual (privatisasi) BUMN kepada asing dan UU Penanaman modal yang menguntungkan pihak investor asing, melemahnya civil society dalam perjuangan demokrasi serta konflik horisontal di berbagai daerah atas nama politik dan kekuasaan.

Maka situasi yang tak lebih baik dibanding reformasi '98 ini tidak dapat dibiarkan oleh kaum muda. Pemuda mempunyai hak dan kewajiban sejarah untuk merespon berbagai kondisi kebangsaan dengan langkah nyata, tidak dapat dengan menyerahkan sepenuhnya pada pengelola negara yang mungkin juga tengah kesulitan menjawab persoalan bangsa yang berkembang. Mereka memiliki syarat yang cukup untuk menjadi pengarah sekaligus pelaku perubahan, seperti moralitas yang baik, semangat yang tinggi, pembelajar yang cepat dan sigap merespon kondisi sekitarnya, memiliki cukup ilmu, serta fisik dan energi yang kuat untuk menunaikan amanahnya.

Pemuda Indonesia yang tersebar dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa saat ini sebenarnya mampu menjawab tantangan perubahan dengan kapasitas dan energi yang dimilikinya. Kepemimpinan kaum muda sebagai solusi alternatif bagi kemandegan reformasi dan demokratisasi patut mendapat respon dari kaum muda sendiri terutama tokoh muda ormas, parpol, organisasi kepemudaan dan mahasiswa. Kaum muda harus menuliskan sejarahnya sendiri dengan penguatan peran dan kontribusi untuk perubahan. Konsolidasi kaum muda dari berbagai organisasi kepemudaan dan mahasiswa menyambut sumpah pemuda dan hari pahlawan tidak semata diletakkan dalam perspektif pemuda saja, jauh dari itu kaum muda merasakan kegelisahan atas banyak persoalan yang tak terselesaikan di negeri ini. Pemuda sangat ingin memberi arti dan berkontribusi langsung sebagai pelaku perubahan, bukan hanya sebagai katalisator perubahan.

Tersebarnya aktivis pemuda dalam berbagai partai politik dan lembaga negara seperti legislatif dan pemerintahan, serta munculnya tokoh pemimpin dari kalangan muda dapat menjadi penanda merangseknya kaum muda meretas jalur pahlawan perubahan. Penjagaan prasyarat menuju kepemimpinan nasional dan daerah dalam aspek moralitas dan kompetensi akan memberi energi lebih dalam menyambut era baru bangsa Indonesia.
Kaum muda saat ini sungguh mampu melakukan langkah nyata dalam menapaki jalur kepahlawanannya. Misalnya dengan keberanian tokoh muda muncul sebagai calon pemimpin bangsa tahun 2009 dengan dukungan berbagai organisasi pemuda. Jika itu yang terjadi, maka tentu akan diikuti langkah-langkah kepahlawanan dari pemuda-pemuda yang lain. Pemuda adalah komunitas mayoritas negeri ini yang akan menjadi penentu masa depan bangsa. Jika pemuda selalu terjebak dalam sub-ordinasi dan melanggengkan iklim feodalisme, mereka menggadaikan masa mudanya. Lewat karya dan perannya, pemuda akan tampil menjadi satu kekuatan besar mengantarkan negeri menuju take off.

Jalur pengabdian kaum muda untuk bangsa tersebar dalam berbagai lapangan kehidupan berbangsa. Pemuda harus berani mengambil peran di setiap jenjang kepemimpinan, tidak dengan menunggu dan membiarkan situasi berlarut-larut. Karena tanggungjawab sejarah tidak dapat diserahkan pada siapapun, pemuda harus menuliskan sejarahnya sendiri. Telah gugur pahlawanku, gugur satu tumbuh seribu..

(Selamat atas Pahlawan Nasional : Muhammad Natsir dan Bung Tomo)

Minggu, 16 November 2008

Membaca Ulang Sejarah, Meretas Kebangkitan Modern

Membaca Ulang Sejarah

Sejarah kejayaan dan kejatuhan peradaban bangsa-bangsa dipergilirkan. Peradaban besar menemui masa keemasan masing-masing. Satu sama lain saling menyerang dan memperluas wilayah pengaruh, penaklukan bangsa lain adalah bagian dari kejayaan itu sendiri. Kejayaan dan kekuasaan itu tidak given melainkan harus diperjuangkan. Zero Sum Game, hasrat saling mengalahkan menjadi hukum dasar kekuasaan.
Dalam kitab suci Al Qur’an banyak dikisahkan jatuh bangunnya peradaban, yang menandakan ketidakberdayaan manusia mempertahankan keabadian kekuasaan. Kejatuhan peradaban terbaik sekalipun adalah kepastian yang sudah menjadi sunnatullah pergiliran kekuasaan. Penyebab keruntuhan peradaban terjadi karena berbagai sebab, misalnya karena ditaklukkan musuh, kejadian alam seperti perubahan iklim, bencana banjir, wabah penyakit dan lainnya, maupun oleh perilaku menyimpang kaum dan penguasanya sendiri.
Sejarah nabi-nabi pun diwarnai dengan perjuangan meraih kekuasaan dan penaklukan. Kita paham bahwa motifnya adalah untuk lebih memperluas ruang menyebarkan kebajikan kepada umat berdasarkan pesan Tuhan. Kisah Daud As, Musa As, Yusuf As, dan Muhammad SAW memberikan contoh yang berbeda dalam metode perjuangan meraih kekuasaan menurut tuntutan keadaan saat itu.

Kita membaca sejarah kejayaan peradaban Yunani, Romawi, Islam, Persi, Tiongkok, Asia Timur, India, Eropa, lalu saat ini Amerika yang disebut-sebut sebagai imperium abad modern. Samuel Huntington sendiri sebagai seorang intelektual barat yang menceritakan dalam bukunya The Clash of Civilization tentang pertarungan tujuh peradaban besar yang akhirnya dimenangkan oleh kapitalisme global yang diwakili Amerika dan negara Eropa. Hipotesa Huntington menyebutkan penantang sengit peradaban kapitalisme di barat adalah Islam. Analisis benturan antar peradaban juga diwakili peradaban Konfusianisme (China), peradaban Hindu (India), peradaban Asia Timur (Jepang dan Korea), maupun peradaban Animisme (sebagian Afrika), dan lainnya. Barangkali Huntington lupa menghitung peradaban Persi (yang kini diwakili Iran) yang pernah berjaya selama lebih dari 30 abad.
Di abad modern yang ditandai dengan penggunaan teknologi dan sistem informasi dalam merebut dominasi peradaban, hasrat mendominasi semakin tinggi. Perang Dunia pertama dan kedua membunuh jutaan umat manusia, puluhan juta lainnya diperbudak dan terusir dari negerinya. Ujung perang dunia kedua mendorong penggunaan teknologi nuklir dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki Jepang.

Perang terus berlanjut dalam bentuk perang dingin (cold war) yang ditandai dengan perlombaan senjata dan nuklir, penguatan intelijen, penguasaan energi dunia, proteksi pangan. Lalu dunia dijebak dalam pembagian blok antara Amerika dan sekutunya di barat dan Uni Soviet bersama sekutunya di blok timur. Siapakah yang mengatakan Uni Soviet mewakili timur?
Sejarah ekonomi politik merupakan sejarah panjang jatuh bangun dan pertarungan antar bangsa merebut kekuasaan dunia dan merebut sumber kekayaannya. Sejak model kuno merkantilisme hingga model mutakhir neoliberalisme. Spanyol dan Inggris di abad pertengahan berlomba mencari benua baru untuk mencari kekayaan alam, seperti batu mulia dan rempah-rempah, serta lahan baru untuk pangan dan sandang, yang kemudian ini disebut merkantilisme. Adam Smith yang memulai teori kapital yang kemudian menjadi rujukan kapitalisme hingga mencapai kejayaannya ditandai lahirnya revolusi industri di Inggris. Karl Marx membantah kapitalisme dengan teori sosialis komunisme, yang kemudian menjadi pedoman awal ekonomi sosialis hingga kemudian menemukan kebesarannya ditandai terjadinya revolusi Bolsevijk yang mendorong lahirnya negara Uni Soviet.

Saat terjadi depresi global yang meluas di Amerika dan negara-negara Eropa (the great depression) barulah disadari bahwa perlu suatu pandangan makro atas berbagai peristiwa sosial ekonomi, yang kemudian mendorong lahirnya ekonomi makro, pelopor pemikirannya adalah Maynard Keynes yang melahirkan aliran Keynesian. Pemikiran ekonomi politik terus mengalami evolusi dan saling melengkapi dalam tataran pengambilan kebijakan ekonomi dan politik suatu negara (mix policy).
Hanya saja, hasrat mendominasi dan berkuasa adalah kebutuhan tersendiri dari bangsa-bangsa di dunia. Atas nama ideologi, agama, faktor sejarah, suku bangsa, dan budaya, para penguasa bangsa sering mengobarkan semangat agresi menginvasi bangsa lain, yang dengan mudah diterima mentah-mentah oleh rakyatnya. Padahal itu semua dilandasi oleh keserakahan menguasai bangsa yang lemah tetapi kaya dengan energi, pangan dan kekayaan alam lainnya. Persis kembali ke zaman merkantilisme, ketika kerajaan Eropa seperti Spanyol, Inggris dan Portugal mengirim pasukannya mencari rempah-rempah dan sumber alam di benua Asia dan Afrika sambil menjajah rakyat setempat.

Meskipun kita juga memahami, sejarah Asia sendiri bukanlah sepenuhnya sebagai objek penjajahan dan perbudakan, kita tahu bagaimana kejayaan peradaban yang indah dari Delhi, Beijing hingga Istanbul. Selepas kejatuhan Roma, peradaban di Asia menemukan masa kejayaan ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan penyebaran pandangan keagamaan, seperti gerakan penyebaran Budhisme di Tibet maupun Islam di Asia Tenggara.
Indonesia adalah salah satu negeri objek merkantilisme sejak dulu. Malapetaka sejarah dimulai saat VOC (Vereenigde Oost-Indishe Compagnie) Belanda mampu menjajah Indonesia selama kurang lebih 350 tahun sejak abad ke-17. Mereka menjarah kekayaan alam dan melakukan politik adu domba antara raja-raja setempat (devide et impera), dengan berpura-pura membela yang satu dan memusuhi yang lain, dan hasilnya penjajah tetap keluar sebagai pemenang. VOC kemudian bangkrut dan meninggalkan utang dalam jumlah besar. Seiring bergulirnya perang dunia kedua, pasukan Belanda meninggalkan Indonesia digantikan penjajahan Jepang.
Berakhirnya perang dunia kedua akibat kekalahan Jepang dari sekutu pada 1945 mendorong pemuda mendesak elit politik agar memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dengan wilayah yang meliputi semua bekas jajahan Belanda. Bahkan di saat sudah merdeka pun Belanda masih tetap ingin kembali menjajah negeri ini dengan melakukan agresi hingga terjadilah perang mempertahankan kemerdekaan hingga 1949, bahkan Irian Barat hingga tetap dicaplok dan baru direbut pada 1964.

Presiden Soekarno memulai pemerintahan dengan utang yang ditinggalkan Belanda milyaran dollar AS. Padahal seharusnya penjajah yang harus memberikan kompensasi atas penindasan yang dilakukan selama ratusan tahun pada rakyat Indonesia. Akibatnya pemerintah tidak memiliki cukup sumber daya untuk membangun, dan rakyat kekurangan pangan. Pemerintah mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk pembangunan infrastruktur seperti gedung parlemen (DPR) dan gelanggang olahraga di senayan, monas dan masjid Istiqlal, akibatnya inflasi tidak terkendali mencapai 700 persen. Soekarno melakukan mobilisasi nasionalisme dengan slogan ‘ganyang Malaysia’. Namun situasi tetap tidak terkendali, rakyat tidak puas dan pemberontakan terjadi di berbagai daerah. hingga terjadilah peralihan kekuasaan dari orde lama ke orde baru pada 1965 berdasarkan Supersemar.
Orde baru dengan harapan baru rakyat tentu juga semangat baru. Pembangunan di setiap sektor, terutama infrastruktur dan ketahanan pangan (swasembada pangan). Situasi yang kemudian dimanfaatkan asing untuk mencengkeram perekonomian Indonesia. Pada tahun 1974 dan 1978 terjadi gerakan mahasiswa dan amuk massa menolak barang-barang asing terutama milik Jepang di Indonesia, mobil dan alat elektronik buatan Jepang dibakar. Pada tahun 80an terjadi kontrak karya jangka panjang antara pemerintah dan pihak Freeport untuk mengelola tambang emas di Papua, selanjutnya perusahaan tambang dan korporasi internasional (Multinational Corporate) menguasai sektor migas dan non migas negeri ini. Penjajahan ekonomi kembali terjadi, rakyat tidak merasakan kesejahteraan di negerinya yang berlimpah kekayaan alam.

Kenyataannya, tidak hanya di zaman orde baru, di orde reformasi kita menyaksikan aset negara (BUMN) seperti Indosat dijual, bank-bank dijual, tambang dikuasai asing bahkan kontraknya diperpanjang, kejahatan besar perbankan terjadi lewat BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Sehingga negeri kita mengalami krisis yang amat parah dalam berbagai dimensi seperti krisis energi, krisis pangan, krisis infrastruktur, krisis finansial dan krisis fiskal. Pemimpin berkuasa lupa bahwa penjajah akan terus melakukan segala cara untuk menguasai kekayaan alam yang berlimpah, agar dapat disedot ke negeri mereka.

Karakter Bangsa yang Terkikis
Indonesia dikenal sebagai negara besar di dunia dan memiliki posisi strategis secara geopolitik dan geoekonomi. Indonesia kaya dengan potensi demografi dan geografi, memiliki ribuan pulau dari sabang sampai merauke, kepulauan Indonesia dipenuhi dengan beraneka ragam potensi alam di permukaan maupun dalam perut bumi. Namun terkikisnya identitas dan jati diri bangsa yang dimulai dari pemimpin membuat martabat sebagai sebuah bangsa berdaulat berkurang maknanya. Bangsa besar dan jaya sebagaimana cita-cita kemerdekaan sepertinya akan terus mengalami degradasi makna.
Kepercayaan dan penghargaan dunia terhadap bangsa Indonesia semakin berkurang karena lemahnya karakter para pemimpin dalam mengedepankan nilai kebangsaan. Elit bangsa justru sebagiannya menjadi pelaku kejahatan terhadap negara seperti korupsi dan berbagai perilaku moral hazard. Di saat yang sama, kebijakan menerima liberalisasi ekonomi menurut hukum pasar (free market) tanpa proteksi, membuat Indonesia kembali harus terjebak dalam permainan bangsa-bangsa pemilik modal.

Negara-negara maju bebas mengintervensi kebijakan ekonomi bangsa-bangsa lemah (third countries) dengan kekuatan modal dan kebijakan melalui lembaga ekonomi dunia seperti World Bank (WB), Internatonal Moneter Fund (IMF) dan World Trade Organization (WTO), atas nama globalisasi dan liberalisme. Kuatnya hegemoni dan cengkeraman kapitalisme global dalam dunia politik dan ekonomi membuat Indonesia yang memang masih lemah tidak mampu keluar dari ketergantungan terhadap utang luar negeri.
Menurut Francis Fukuyama (2003) istilah liberalisme adalah aktivitas ekonomi bebas dan pertukaran ekonomi berdasarkan kepemilikan pribadi dan pasar. Tetapi istilah William K.Tabb (2003) menyebutkan globalisasi membentuk kembali rezim perdagangan dan keuangan dunia serta mendefinisikan ulang kesadaran pada tingkat yang paling dekat dan lokal, mempengaruhi bagaimana orang memandang dirinya sendiri, ruang gerak anak-anak mereka dan entitas mereka. Beragam identitas mengalami perubahan akibat kekuatan globalisasi. Realitas ini menunjukan bangsa menghadapi tantangan yang sangat besar, sehingga diperlukan upaya pembangunan karakter dan identitas bangsa dalam berbagai aspek. Pemimpin negeri perlu menyadari tugas pembangunan karakter bangsa ini adalah bagian penting menanamkan spirit nasionalisme menuju amanah besar membangun kedaulatan dan kejayaan bangsa.

Sejarah Terus Berulang
Jika tidak belajar dari sejarah maka keburukan sejarah itu akan berulang pada setiap generasi. Prof. Amien Rais dalam bukunya ‘Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia’ mengungkapkan berulangnya sejarah jatuh bangun negeri ini justru dipicu oleh kebodohan dan mental inlander sebagian elit yang memegang kekuasaan pada masanya. Dahulu negeri kita dijajah oleh VOC dengan dukungan politik, kekuatan militer, lembaga keuangan, media, bahkan dukungan kaum intelektual para orientalis seperti misionaris Snouck Hurgronje.
Kenyataannya sama yang kita saksikan saat ini, walaupun tidak ada penjajahan politik dan militer lagi, kita telah kehilangan kedaulatan ekonomi sampai pada titik yang sangat mencemaskan. Kekuatan korporasi asing (Multinational Corporate) telah menguasai dan mendikte perekonomian nasional hampir secara keseluruhan di berbagai bidang seperti perdagangan, keuangan, perbankan, penanaman modal, kepelayaran dan kepelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non-migas, bahkan hingga pada kebijakan politik dan pertahanan.

Maka sejarah berulang, kita kembali terjajah dan mungkin akan terus terjajah! Jika tidak ada inisiatif bangkit bergerak. Harus muncul kesadaran untuk belajar dari kejatuhan bangsa dan mengubahnya menjadi cambuk pelecut meraih kemerdekaan dan kedaulatan sejati. Mendidik pemuda agar berjiwa patriot dan tidak bermentalitas inlander. Ini rupanya alasan pemerintah negara-negara macan Asia seperti Jepang, China dan India mendidik anak muda mereka di bawah kesadaran nasionalisme yang tinggi, agar tidak menjadi pemimpin murahan pada saatnya meraih kekuasaan. Indonesia bisa jadi terpojok dengan kesuksesan semu membangun nasionalisme lewat program penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) di seluruh kelompok masyarakat. Namun seterusnya gagal mendefinisikan model pembangunan karakter bangsa pada para pemudanya justru pada era reformasi yang penuh kebebasan. Akibatnya justru pada era reformasilah kita melihat penjualan aset negara BUMN secara instan dan besar-besaran terjadi. Saat oposisi elit bangsa meneriakkan kemerdekaan dan demokrasi, lalu ketika berkuasa mereka bebas menjual aset negara.
Maka, membaca ulang dan mempelajari sejarah amat penting untuk tidak mengulang kejatuhan bangsa akibat kesalahan elit-elitnya. Those who don’t learn from history, are doomed to repeat it. Siapa pun yang tidak belajar dari sejarah, mereka pasti mengulanginya.

Meretas Jalan menuju Kebangkitan
Di setiap era kepemimpinan selalu terbit mimpi, rakyat selalu merasa zaman baru telah tiba. Dan setiap ujungnya selalu ada huru hara dan malapetaka, elit bertikai rakyat terlibat lalu jadi korban. Euforia era baru akan selalu mewarnai perjalanan bangsa ini, politik bumi hangus yang selalu memulai dan tak mau melanjutkan meskipun baik, mereka yang menguasai perekonomian negeri akan terus berpesta pora tanpa akhir, bahkan mewariskannya. Tinggallah rakyat tetap sengsara hanya dilirik saat pemilu.
Kita perlu membangun karakter bangsa yang kuat dan tidak bermental inlander. Mempersiapkan skenario masa depan bangsa, mempersiapkan pemimpin-pemimpinnya, memperluas jangkauan harapan rakyat, serta keberanian menghadapi segala resiko dalam memperjuangkan perubahan. Indonesia yang baru mengalami euforia demokrasi harus melakukan pendalaman demokrasi (a deepening of democracy) agar tidak terjebak dalam demokrasi prosedural dan transisi berkepanjangan.

Jangan sampai sejarah buruk berulang terhadap bangsa Indonesia tercinta. Agar pemuda yang lahir di jaman ini optimis menghadapi masa depannya (towards a brighter future). Maka kepemimpinan nasional yang menjadi taruhan perubahan, harus menjadi perhatian puncak bagi seluruh rakyat. Negeri ini perlu pemimpin dengan keyakinan tinggi dan penuh kewibawaan meretas jalan menuju kebangkitan modern.

Konten buku Taufik

Assalam Wr Wb

Insya Allah saya akan menampilkan buku kumpulan tulisan saya 'Menuju Muslim Negarawan Meretas Kebangkitan Indonesia' secara berkala



beberapa tulisan yang akan disampaikan adalah

1. Membaca Ulang Sejarah, Meretas Kebangkitan Modern
2. Pemuda Pemimpin Perubahan
3. Jalur Kepahlawanan Kaum Muda
4. Deklarasi Malang.......
5. Keberanian Berharap......
6. Integritas dan Kepemimpinan
7. Muslim Negarawan Spirit Kebangkitan Indonesia

dan lainnya

Selamat Membaca

Salam Perjuangan

Minggu, 26 Oktober 2008

MUKTAMAR VI KAMMI

SUKSESKAN MUKTAMAR VI KAMMI

3 - 9 Nopember 2008

di kota Anging Mamiri, Makassar

Muslim Negarawan Spirit Kebangkitan Indonesia

Minggu, 19 Oktober 2008

Segera Terbit buku untuk Anda


SEGERA TERBIT BUKU

KAMMI, MENUJU MUSLIM NEGARAWAN, MERETAS KEBANGKITAN INDONESIA

Refleksi saya atas perjalanan bangsa dan peran pemuda di dalamnya
dan autokritik saya yang konstruktif terhadap KAMMI
2 tahun saya memimpin organisasi ini, 10 tahun membersamainya
harus kutuangkan gagasan, pengalaman, harapan-harapan, dan ide-ide besar untuk KAMMI, karena jasad tidak selamanya membersamainya.
Muslim Negarawan adalah ide orisinil aktivis KAMMI sebagai tawaran solusi perbaikan bangsa, akibat transisi berkepanjangan dan krisis kepemimpinan yg menimpa negeri ini. KAMMI telah menjadikan gagasan ini sebagai metode/manhaj kaderisasi pd para kadernya, dan saya mencoba meramunya dalam perspektif realita, sebagai pelaku di lapangan sosial, sekaligus mendekatkan konsepsi ini menjadi lebih nyata dan membumi, praktis dan mudah diterapkan

Selamat membaca

Sabtu, 11 Oktober 2008

Perjalananku di KAMMI


Perjalananku di KAMMI
‘membacanya, kamu bisa menyingkatnya untuk mencapai tujuan’


Tentu saja setiap kader punya best stories dengan KAMMI. Di catatan harian yang indah bahkan di blog pribadi selalu ada kisah hidup menarik di KAMMI yang kita torehkan. Saya membagi potongan singkat catatan perjalanan di KAMMI sebagai refleksi humanis saya, satu orang di antara puluhan ribu kader KAMMI yang masing-masing punya live story yang harus diapresiasi. Pramudya Ananta Toer mengatakan : Manusia boleh pandai setinggi langit, namun jika ia tidak menulis maka ia akan hilang ditelan sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Perkenalan dengan KAMMI
Perjalanan tidak mudah ditebak. KAMMI hadir dan akrab begitu saja dalam duniaku. Sebagai Mahasiswa baru, saya ingin bersosialisasi menjadi bagian dari berbagai komunitas, seperti komunitas Himpunan mahasiswa, Ukm dan Laboratorium, yang kupikir bisa membantuku menuntaskan studiku tepat waktu di Jurusan Elektro Universitas Hasanuddin Makassar. Sambil tetap menjadi ‘mahasiswa normal’. Di sana ternyata banyak aktivis KAMMI, mereka cukup menyenangkan dan sangat ‘care’, meski dalam interaksi sering memberikan pilihan sulit.
Seorang senior di kampus namanya Lalu Fakhrurrozi (Sekum KAMMI Sulsel saat itu) yang mengenalkan dan terus mengajak saya bergabung dengan KAMMI. Lama-lama saya putuskan, saya coba gabung! Lalu saya ikut training yang namanya Daurah Marhalah I (Damar I) Komisariat MIPA-FK Unhas akhir 1998. Setelah ikut Damar I, langsung diadakan pembentukan Komisariat Fakultas Teknik, dan salah satu calon yang kemudian menang adalah saya, maka dimulailah aktivitas di KAMMI sebagai ketua komisariat.

Awalnya saya terobsesi aktif di HMI yang lebih dulu saya kenal, tetapi sayang pada saat itu HMI di FT Unhas tidak aktif. Saya terinspirasi oleh kakak yang pernah aktif di PB HMI. Saat SMU saya pakai kaos dan baca buku-buku HMI kiriman saudara dari Jakarta, dan membaca majalah Hidayatullah dan buku-buku Muhammadiyah milik Bapak yang pengurus Muhammadiyah di daerah. Maka, ketika melanjutkan studi di Universitas, saya mengikuti basic training (LK I) di lembaga ekstra kampus HMI komisariat F-MIPA Unhas. Kemudian saya tertarik juga ketika diajak seorang senior mengikuti Darul Arqam Dasar (DAD) IMM komisariat FT Unhas dan bahkan sempat menjadi pengurus komisariat. Dan barulah saya mengikuti Damar I KAMMI di komisariat FMIPA-FK, saya ingin punya banyak komunitas. Seorang senior aktivis kampus yang juga mantan ketua komisariat HMI di FKG Unhas, Syukri Wahid, berperan besar memberi pencerahan dan mendorong saya untuk menjadi seorang penggiat Islam di kampus.

Saya mengenal baik KAMMI baru pada saat aktif di dalamnya. Sejarah kelahiran KAMMI pada 29 Maret 1998 di UMM Malang, keterlibatan dalam aksi reformasi, kedekatan dengan Amien Rais (tokoh Muhammadiyah), dan anggota-anggotanya dari kampus ternama. Bahwa kampus-kampus besar di Jawa seperti UI, UGM, ITB, IPB, UNPAD, UNAIR dan lainnya penuh dengan aktivis KAMMI pada saat reformasi, itu adalah awal semangat besar saya. Apalagi saya tahu Unhas adalah kampus besar di luar Jawa, maka KAMMI harus dibesarkan pula di Unhas dan sekitarnya.

Di KAMMI Makassar
Hari-hari bersama KAMMI dan kampus. Terlibat dalam berbagai aksi nasional ataupun daerah, menjadi peserta atau panitia training (dauroh), kegiatan seminar atau diskusi, rencana-aksi untuk Musholla, BEM kampus dan kegiatan untuk mahasiswa baru. Kebiasaan menginap di sekretariat atau di kampus dan jarang pulang, IPK menurun dan rajin ikut semester pendek mengulang mata kuliah, sedikit melupakan masa muda yang bebas, jalan terasa masih panjang, badan makin tipis. Lengkap sudah aktifis.
Saya mengikuti hampir semua kegiatan di KAMMI, baik kaderisasi, sosial masyarakat maupun politik seperti diskusi publik dan demonstrasi. Satu waktu saat semester ketiga, saya mengikuti pesantren Ramadhan bersama KAMMI di Pondok Pesantren Maccopa Maros. Acaranya lima hari, semua aktivitas gaya pondok harus diikuti, buka puasa bersama, membaca Qur’an, mendengarkan ceramah pagi petang dan malam, ditambah kegiatan dari KAMMI sendiri. Karena memang bukan mantan santri pondok, modal semangat satu dua hari ternyata tidak cukup, pada sesi Sholat Tarawih tengah malam yang bacaannya panjang, banyak yang terkapar. Seorang teman peserta sujud terlalu lama ditengah sholat sambil tertidur, bahkan senior pembimbing mundur di rakaat keempat, saya pun ikut mundur menunggu sholat witir.

Di waktu yang lain, saat menjadi ketua komisariat KAMMI FT Unhas, ketika lagi semangatnya demo Gus Dur. Pertama kalinya dalam sejarah ada kumpulan mahasiswa teknik yang berani demo tanpa komando senat mahasiswa fakultas, kami berorasi dan menyebar pamflet di fakultas sambil mengumpulkan massa sebelum berangkat aksi ke DPRD propinsi. Besoknya saya dan seorang teman pengurus komisariat Sofyan dipanggil dan disidang di senat. Kondisi terburuk sudah dipertimbangkan, dari skorsing, praktikum dibatalkan, hingga fisik. Ternyata hanya diancam saja..Besoknya kami aksi lagi mengumpulkan massa tapi tidak fakultas lagi, di pertigaan masuk kampus dekat rektorat Unhas.
Saya sadari, saya menyukai kepemimpinan, orientasi organisasi lebih menarik dibanding sekedar sosial dan komunitas saja. Kesempatan pertama selepas dari ketua komisariat menjadi Sekum KAMMI Sulawesi Selatan pada 2001, dan pada saat Muktamar Lampung, ketua KAMMI Sulsel saat itu Muh.Nurjauhari menjadi ketua territorial Indonesia Timur, saya terpilih menjadi Ketua KAMDA Sulsel hingga 2003.

Semasa menjadi ketua KAMDA, saya beberapa kali menghadiri forum lintas organisasi. Suatu waktu, ketua-ketua OKP mengadakan rapat di sekretariat PMKRI di Makassar, ternyata ketua PMKRI Makassar saat itu adalah mantan pembimbing praktikum saya di FMIPA angkatan 1995, sedangkan saya angkatan 1998. Dalam Intermediate Training HMI Makassar menghadirkan ketua KAMMI, PMII, PMKRI, dan GMNI, saya sendiri yang masih mahasiswa, show must go on. Kapasitas dan kewibawaan tetap perlu ditampilkan karena marwah organisasi kita pertaruhkan walaupun masih muda. Saya pernah menjadi pembicara dengan Adhyaksa Dault (Menpora era SBY) dan seorang politisi Muzammil Yusuf dalam satu forum seminar di Makassar. Saya katakan, ketika Natsir seusia saya beliau sudah merintis Masyumi, dan Hasan Al Banna sudah mendirikan Ikhwanul Muslimin di Mesir, sedangkan saya masih ketua organisasi di daerah.

Banyak hal menarik mengurus organisasi, saat marak demo anti privatisasi Indosat, beberapa pengurus seperti Abdullah (Dul) dan Yusran (Uce) mengusulkan mendemo Laksamana Sukardi (Meneg BUMN zaman Megawati) yang mau ke Makassar, kami berkonvoi ke arah pelabuhan (kantor Pelindo di Makassar), setelah masuk ingin menemui panitia ternyata salah salah tempat, padahal sudah main gertak. Beberapa hari kemudian kami demo lagi ke Bandara Hasanuddin untuk tujuan yang sama, saya ditelepon live radio Elshinta Jakarta dan saya katakan, tidak mungkin Laksamana Sukardi datang karena cuaca sangat terik seakan ingin membakarnya. Saya baru tahu kalau Elshinta radio yang cukup besar di Jakarta ketika seorang wartawan koran Fajar biro Jakarta menelepon dan menyampaikan bahwa wawancara saya didengar banyak orang dan aksi ini membuat Menteri tidak jadi ke Makassar, benar tidaknya, entahlah.

Saat marak demo kenaikan BBM era Megawati, KAMMI beraliansi dengan BEM serta beberapa organ mahasiswa dan buruh seperti LMND, PII dan FNPBI. Rapat di KAMMI menyepakati masing-masing ketua memimpin organnya tetapi dalam satu barisan aksi. Aksi konvoi dari berbagai sudut kota Makassar, mahasiswa berjumlah ribuan, beberapa mobil tangki dan SPBU disandera. Besoknya mahasiswa aksi di DPRD provinsi, terjadi bentrokan. personil polisi ditambah dan mengejar mahasiswa. Saat situasi kocar-kacir malah massa akhwat merangsek maju menghadang polisi dan berteriak : ‘Allah cinta para mujahid’ padahal semua massa laki-laki sudah menyelamatkan diri, bersembunyi di ujung-ujung gang bahkan ada yang terdampar di saluran air, lima kawan ditangkap dan beberapa yang luka terkena pukulan. Ternyata akhwat KAMMI punya nyali yang besar.

Satu hal yang menurutku unik. Ketika MUSDA KAMMI Sulawesi Selatan, LPJ saya ditolak oleh teman-teman komisariat yang justru saya kenal dekat dan cukup rajin berkunjung, komisariat UNHAS, Politeknik dan UMI. Lama-lama saya berpikir, KAMMI ini semakin maju cara berpikir kadernya dibanding di awal-awal pembentukannya. Dan terbukti saat ini KAMMI Sulawesi Selatan semakin maju dan bertumbuh, termasuk ekspansi komisariat, perkenalan organisasi dan profesionalisme pengurusnya.
Semakin majunya organisasi tidak terlepas dari kaderisasi yang intensif, dinamika organisasi, daya kritis dan kreativitas kader-kadernya. Mereka yang jumud akan selalu tertinggal dari roda pembaharuan.

Di KAMMI Pusat
Selepas dari KAMMI Sulawesi Selatan dan juga sudah meraih gelar Sarjana Teknik, saya pikir saya harus mempraktekkan ilmu Teknik Elektro yang saya pelajari selama lima tahun. Mulai melamar pekerjaan ke perusahaan terkait. Mencari peluang di kota lain seperti Kalimantan Timur (Balikpapan, Bontang, Samarinda) yang terdapat berbagai perusahaan yang berkaitan dengan disiplin ilmu teknik, mengikuti pelatihan profesi. Lalu 2003 pindah ke Jakarta dan mulai bekerja.
Saya tetap berusaha bersentuhan dunia pergerakan di Jakarta. Sering datang ke sekretariat bertemu dan berdiskusi dengan pengurus KAMMI pusat, mengikuti kegiatan dan forum publik. Beberapa aktivis KAMMI yang berperan mengajak bersentuhan dengan pergerakan di Jakarta. Saya mengenal beberapa perkumpulan dan lokasi perkumpulan kaum pergerakan di Jakarta.
Ternyata dunia aktivisme memang lebih menarik dan menggoda. Saya memutuskan untuk aktif lagi di KAMMI Pusat. Sambil mendaftar kuliah magister dengan mengambil disiplin yang berbeda tapi banyak berhubungan dengan aktivitas publik, yaitu Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (MPKP FEUI). Saya mulai kuliah pada Agustus 2004.

KAMMI Pusat penuh dengan dinamika internal. Saya mengikuti beberapa dinamika internal yang cukup panas di KAMMI Pusat, yang membuat sulit untuk menempatkan diri. Bagaimanapun saya masih terbilang baru di Jakarta dan tidak memahami sepenuhnya histories persoalan yang ada. Saya ingat pada kalimat unik, ‘konflik akan membuatmu semakin akrab dan bersahabat’, dan jadilah saya bagian dari konflik, demi cinta untuk KAMMI.
Saya menyaksikan dan mengalami bagaimana konflik bisa merusak hubungan tapi sekaligus mampu mendewasakan para aktivis KAMMI. Perjalanan KAMMI bukan sekedar rentetan perlawanan terhadap ketidakadilan di negeri ini, lebih dari itu KAMMI penuh dinamika internal yang menjadi menu di setiap periode kepemimpinan. Dan hal tersebut memberi pencerahan dan menjadi pelajaran berharga bagi setiap kader.

Saya membaca sejarah kepemimpinan KAMMI sejak awal berdirinya, dari Fahri Hamzah, Fitra Arsil, Andi Rahmat, Badaruddin, hingga Akbar Zulfakar. Dan saya mengikuti perjalanan KAMMI Pusat pada masa kepengurusan Hermawan, Yuli Widi Astono, Febriansyah dan saya sendiri. Semuanya menjadi khazanah bagi KAMMI yang harus diapresiasi oleh setiap kader KAMMI. Mereka menuliskan sejarahnya, saya menuliskan sejarahku, dan anda semua juga harus menulis sejarah masing-masing dalam satu era yang disediakan. Mereka yang hidup dalam dunia teori dan senang menjadi pengamat akan menyesali hal terbesar karena tidak berbuat apa-apa.

KAMMI dilahirkan dengan nama besar dan segera menjadi ’buah bibir’. Namun organisasi ini berdiri di atas sistem yang mengedepankan kepemimpinan dan kekuatan sistem, sehingga tidak boleh ada seorang kader yang (merasa) lebih besar dari organisasi KAMMI sendiri.
Pasca Mukernas Surabaya 2004 saya menjadi anggota tim backup organisasi menuju Muktamar Samarinda. Setelah Muktamar IV KAMMI di Samarinda saya menjadi pengurus bidang Sosial Masyarakat sebelum menjadi ketua bidang Kebijakan Publik KAMMI Pusat. Menjadi ketua bidang membuat saya banyak merasakan sibuknya jadi pengurus KAMMI Pusat, kunjungan ke daerah, membuat pernyataan sikap, mengikuti aksi dan memberi keterangan pers, dan lainnya.
Setahun lebih berjalan kepengurusan KAMMI pusat, terjadi lagi dinamika internal. Rapat Badan Permusyawaratan (BP) digelar, ketua umum Yuli Widi Astono diminta mundur, lalu digantikan Febriyansyah. Saya semakin belajar dari banyak kenyataan seperti ini, organisasi bisa hancur jika tidak hati-hati mengelolanya, termasuk mengelola gejolak dinamika internalnya. Syukur, Muktamar V 2006 tetap dapat diagendakan, Muktamar KAMMI menjadi bukti bahwa KAMMI tidak mati muda, kader KAMMI memiliki kemampuan berorganisasi dan mengelola perbedaan.
Menjelang Muktamar V KAMMI di Palembang, saya sebagai Steering Committee Muktamar. Saya juga tengah sibuk menyelesaikan tesis magister MPKP UI. Saya mengerjakannya di sekretariat KAMMI bolak-balik Salemba Depok, agar tetap bisa berbagi tugas di organisasi. Motivasi kawan-kawan penghuni sekretariat sangat berarti saat itu. Dan setelah berkali-kali revisi sebelum ujian sidang, akhirnya lulus juga.

Selepas lulus ujian magister, saya ke Makassar sambil bersilaturrahim dengan pengurus KAMMI Sulawesi Selatan. Dalam bincang-bincang inilah terungkap keinginan kawan-kawan agar ada konsolidasi dari timur menuju Muktamar. Saya katakan kalau saya maju mungkin berat dan memang motivasi saya kurang. Karena saya merasakan dinamika yang cukup keras di KAMMI Pusat dan masa depan (mobilitas vertikal) seorang ketua tidak ada jaminan masa depan, mungkin beda dengan organisasi mahasiswa yang lain. Lagi pula ketua KAMMI pusat dari KAMMI daerah luar Jawa belum ada sejarahnya. Namun kawan-kawan sepakat tetap ingin melanjutkan konsolidasi di Muktamar V Palembang nanti.

Dalam perjalanannya, di arena Muktamar V KAMMI yang hangat dan dinamis, banyak kenyataan situasional yang perlu keputusan cepat. Teman-teman teritorial VII Indonesia Timur yang saat itu terdiri dari 8 KAMDA (Sulsel, Sultra, Sulteng, Sulut, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, dan Papua) beberapa kali berkonsolidasi seiring semakin menguatnya masing-masing kandidat, benar-benar serius mencalonkan saya. Di salah satu sudut masjid asrama haji Palembang tempat pavorit pertemuan itu. Pada saat nama saya muncul sebagai kandidat, saya Istikharah beberapa kali sebelum memutuskan untuk maju. Ternyata dukungan juga dari teman-teman Kalimantan dan Jawa Timur termasuk NTT, NTB dan Bali (Teritorial VI saat itu). Dan seperti diketahui, saya ditetapkan sebagai ketua umum KAMMI Pusat periode 2006-2008

Pemimpin Puncak
Hal pertama dan utama yang perlu saya lakukan sebagai ketua terpilih adalah memperkenalkan diri, baik kepada publik maupun internal KAMMI. Saya menemui semua mantan pimpinan KAMMI, meminta dukungan dan berdiskusi arah pembangunan organisasi. Saya mengkonsolidasikan pimpinan pusat, mengadakan rapat rutin pengurus, brainstorming hingga kreasi rapat pleno setiap semester.

Saya menemukan orang-orang terbaik pada kepengurusan KAMMI pusat periode ini, sehingga roda organisasi berjalan lancar, penuh ide dan kreativitas. Sekjen, ketua teritorial dan ketua-ketua bidang yang penuh talenta dan dedikasi membangun organisasi. Mempersepsi diri layaknya manajer dari para punggawa terasa penting artinya, mengingat semua pengurus KAMMI pusat mempunyai track record sebagai pemimpin di KAMMI, baik di daerah maupun teritorial. Dinamika internal bukan tidak pernah ada, bahkan pada level konflik, tetapi kedewasaan pengurus sangat membantu dalam menjaga integritas organisasi.
Tugas membangun organisasi merupakan tanggung jawab seluruh kader. Tetapi tugas utama tentu bagi seorang ketua umum. Aktivitas formal adalah akumulasi pekerjaan informal, tetapi keduanya memerlukan daya juang dan fokus kerja. Tugas organisasi juga menjadi tanggungjawab sekjen dan semua pimpinan KAMMI Pusat yang lain, ketua bidang maupun ketua teritorial, juga ketua daerah.

Aktivitas keorganisasian KAMMI Pusat sepanjang 2006-2008 berjalan cukup baik dan memenuhi standar yang dibebankan dalam konstitusi dan rekomendasi hasil muktamar Palembang. Mukernas, rapat pimpinan, rapat pengurus harian, rapat pleno, kegiatan nasional di setiap bidang, kegiatan kaderisasi, kebijakan publik, dan respon situasi sosial politik nasional.
Banyak kegiatan publik, secara mandiri maupun terkordinasi yang dilaksanakan oleh pengurus KAMMI Pusat. Semuanya menjadi irama bersama membangun organisasi disela-sela aktivitas profesi keseharian, sebagai mahasiswa, karyawan, pengajar, konsultan, atau wirausaha.

Dalam dua tahun terakhir, banyak peristiwa politik dan kebijakan pemerintah yang direspon KAMMI bersama gerakan mahasiswa yang lain, seperti menolak kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), menolak kebijakan impor beras, mendukung interpelasi nuklir Iran, penuntasan megakorupsi BLBI, tuntutan atas krisis pangan dan energi, serta meningkatnya kemiskinan. KAMMI masih akan terus concern pada isu kerakyatan siapapun yang memimpin negeri ini. KAMMI membangun aliansi strategis dengan berbagai kelompok untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia, seperti di The New Deal yang melibatkan ormas pemuda dan mahasiswa tingkat nasional, forum pemuda mahasiswa Islam (FPMI) yang dideklarasikan bersama 14 ormas pemuda Islam, serta aliansi lainnya yang bersifat strategis taktis.

Pada Agustus 2008, KAMMI secara resmi menemui Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono dalam rangka mengundang untuk memberikan pidato dan membuka acara Muktamar VI KAMMI dalam kapasitas sebagai RI-1. Selain itu KAMMI menyampaikan konsepsi Muslim Negarawan sebagai kriteria pemimpin bangsa, mereka yang berani mengambil tanggung jawab besar atas berbagai masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, bukan sekedar seorang politisi yang mengambil keuntungan atas masalah yang ada. KAMMI akan menyampaikan konsep Muslim Negarawan kepada setiap calon presiden yang ditemui. KAMMI juga menemui dan menyampaikan gagasan pada beberapa tokoh nasional seperti Wapres RI Jusuf Kalla, ketua MPR RI Hidayat Nurwahid, ketua umum PAN Soetrisno Bachir, Menegpora RI Adhyaksa Dault, dan lainnya, baik secara formal maupun informal.
Kenyataannya, seni mengelola dan memimpin orang lain tidaklah seindah teori dalam berbagai bacaan literatur kita. Kita selalu menemukan tantangan baru yang memicu daya kritis untuk keluar dari banyak persoalan pelik. Apa yang sering kita pahami sebagai komitmen, integritas, persahabatan dan kepercayaan (trust) hanya terasa dalam interaksi dalam berorganisasi.

Kuakhiri dengan Indah
Saat matahari terbenam, KAMMI tidak pernah terbenam. Pemimpin datang dan pergi, KAMMI tetap tegar berdiri. Selalu ada kader terbaik yang siap melanjutkan estafeta kepemimpinan di KAMMI. Yang pasti, KAMMI telah menjadi rumah bagi kita semua, baik buruknya tetap rumah kita, dan tentu kita akan selalu mengenangnya dengan nyanyian ‘lebih baik di sini, rumah kita sendiri...’ Saya menjalani tiga Ramadhan sebagai ketua umum dan itu sudah sangat cukup menempa diri saya melanjutkan perjalanan.
Bahwa hasrat kemudaan kita yang tak kan pernah padam telah kita semai dalam aktivisme di KAMMI. Banyak lompatan yang kita lakukan meski banyak perhentian yang getir ataupun menyenangkan, dalam lelah atau puas. Ini saat kuakhiri dengan indah, menuju pertapaan dan perjalanan selanjutnya : tanggung jawab terhadap masa depan. Perenungan terbaik, rekreasi terbaik adalah dengan terus berkarya dan memberi manfaat. Bravo KAMMI !!!