Kamis, 03 Desember 2009
Orang Kaya di dunia sedikit
Menurut petugas pajak, orang kaya berarti orang yang mempunyai aset senilai 10 Milyar atau lebih dan tentu saja harus bayar pajak. Defenisi orang kaya tentu saja beragam, menurut majalah Forbes orang kaya adalah orang yang berpenghasilan 1 Juta Dolar AS pertahun (active income). Sedangkan Robert Kiyosaki menyebut orang kaya adalah yang berpenghasilan pasif (passive income) lebih dari kebutuhan standar hidupnya,dimana dia tidak perlu bekerja lagi kecuali jika dia mau atas dasar aktualisasi dan sosialisasi. Jadi percuma saja berpenghasilan 1 Juta Dolar setahun kalau pengeluarannya 1,2 Juta Dolar setahun!
Nah, apakah Anda berpotensi kaya ?
Menurut Marshal Silver : hanya 1 % orang menguasai 50 % uang beredar di dunia, hanya 5 % orang menguasai 90 % uang beredar di dunia, sedangkan 95% orang memperebutkan sisa 10% uang beredar di dunia.
Jika seluruh uang di dunia ini dibagi rata maka setiap orang akan mendapatkan sekitar 2,4 Juta Dolar AS atau sekitar 24 Milyar Rupiah (jika kurs 10ribu Rupiah per USD)
Sayangnya menurut ramalan Marshal lagi, bahwa dalam 5 tahun kemudian, komposisi kekayaan akan kembali pada posisi semula, itu karena sikap orang terhadap kekayaannya yang berbeda2. Orang pada umumnya akan berpikir bagaimana membelanjakan uangnya demi kepuasan, sementara sedikit yang berpikir bagaimana menginvestasikan kekayaannya agar terus bertambah.
Jadi, bagaimana kita menyebut diri kita kaya jika belum memiliki uang di atas rata2 orang jika uang dibagi rata. Anda baru disebut kaya jika punya uang lebih dari 24 Milyar Rupiah. Nah, lho
(diinspirasi dari buku 'Financial Revolution'nya Tung Desem Waringin)
Nah, apakah Anda berpotensi kaya ?
Menurut Marshal Silver : hanya 1 % orang menguasai 50 % uang beredar di dunia, hanya 5 % orang menguasai 90 % uang beredar di dunia, sedangkan 95% orang memperebutkan sisa 10% uang beredar di dunia.
Jika seluruh uang di dunia ini dibagi rata maka setiap orang akan mendapatkan sekitar 2,4 Juta Dolar AS atau sekitar 24 Milyar Rupiah (jika kurs 10ribu Rupiah per USD)
Sayangnya menurut ramalan Marshal lagi, bahwa dalam 5 tahun kemudian, komposisi kekayaan akan kembali pada posisi semula, itu karena sikap orang terhadap kekayaannya yang berbeda2. Orang pada umumnya akan berpikir bagaimana membelanjakan uangnya demi kepuasan, sementara sedikit yang berpikir bagaimana menginvestasikan kekayaannya agar terus bertambah.
Jadi, bagaimana kita menyebut diri kita kaya jika belum memiliki uang di atas rata2 orang jika uang dibagi rata. Anda baru disebut kaya jika punya uang lebih dari 24 Milyar Rupiah. Nah, lho
(diinspirasi dari buku 'Financial Revolution'nya Tung Desem Waringin)
Rabu, 03 Juni 2009
Mid Year
Aku kaget melihat kalender berganti begitu cepat...sekarang sudah tengah tahun 2009. Banyak sekali target sudah tercapai namun lebih banyak belum tercapai. Sebuah buku belum juga menghasilkan printing sheet, masih pointer dan ide2 belum terkombinasi dalam paragraf. Tumpukan proposal rencana kerja, dan sejumlah agenda negosiasi belum juga kelar. Besok aku menjadi siapa, masih sebuah sketsa kasar tapi harus kusyukuri.
Inilah pencapaian terbaikku yang tak boleh kusangkal. Terlalu banyak yang ingin mencapainya, saya nikmati hari ini. Co's The Future is Now, enjoy its all...
Kamis, 30 April 2009
Pilih siapa yaa
Pilih SBY terlalu santun, kurang berani
Pilih Prabowo terlalu sangar
Pilih Mega, Do Nothing
Pilih JK, Proyek mulu
Pilih HNW, terlalu naif
Jumat, 17 April 2009
Pemimpin oh pemimpin
Banyak yg bertanya siapa bakal jd pemimpin di negeri ini. Tiba2 berubah total dan berbalik 180 derajat melihat hasil pemilu 2009.
yaa sudahlah
saya juga malu dengan dengan beberapa elit kita yg tiba2 mati angin
ada yg kelewat pede
yaa sudahlah
saya juga malu dengan dengan beberapa elit kita yg tiba2 mati angin
ada yg kelewat pede
Rabu, 11 Februari 2009
JK Lebih siap dan lebih tenang
Citizen Journalism
08/02/2009 - 03:08
JK nampak tenang menghadapi situasi serumit apapun, termasuk hembusan isu capres cawapres 2009. Modal ini yang diperlukan setiap pemimpin untuk menghadapi tantangan masa depan yang penuh tekanan. JK juga satu di antara sedikit tokoh nasional yang mendekati sikap negarawan.
Pernyataan JK dari Washington DC yang mempersilahkan kader Golkar lain untuk nyapres adalah sikap yang elegan. Seharusnya sebagai ketua umum Golkar, JK mempunyai hak lebih tinggi untuk terlebih dahulu mendeklarasikan diri sebagai capres.
Mendapatkan gelar doktor kehormatan (DHC) di bidang perdamaian dari Universitas Soka Tokyo, menjadi tamu pertama Wapres dari luar negeri yang diterima Wapres AS Joe Biden, menerima penghargaan dari pemerintah Belgia atas prestasinya meningkatkan hubungan kedua negara, menjadi langkah-langkah penting JK ke tangga lebih tinggi. Setidaknya JK menunjukkan kemampuan dirinya sebagai negarawan, politisi, pemimpin dan lobier sejati.
JK mungkin sedang berhitung untuk meraih kekuasaan tertinggi dengan resiko minimal, sebagai saudagar dan politisi senior, JK tentu mempersiapkan segala sesuatunya dan bertindak savety tanpa harus terbaca pihak lain termasuk SBY yang tengah 'menyanderanya'.
Banyak pihak yang menilai JK sebagai real leader, lebih kongkrit, rasional, dan memahami apa yang harus dilakukan. JK sepertinya bekerja lebih maksimal dan tidak terlalu peduli dengan pembangunan citranya. JK berani mengambil keputusan sulit, dan menyampaikan kebijakan pemerintah meskipun kurang populis.
Peran besarnya di bidang ekonomi dan penanggulangan ancaman disintegrasi adalah sedikit di antara sekian bukti bahwa JK punya kapasitas dan kegesitan dalam bekerja. Sayang sekali JK seperti menahan diri dari obsesi politiknya, ini berbeda dengan beberapa tokoh nasional yang sudah jauh hari mendeklarasikan diri sebagai capres.
Apakah gerangan dengan JK sehingga tidak mendorong Golkar mencapreskannya? Benarkah terjadi persaingan begitu ketat di internal partai? Ataukah demokrasi kita masih semu sehingga melihat JK sebagai 'orang lain' hanya karena bukan orang Jawa?
Tofiq Amrullah, taufiq_am98@yahoo.com
08/02/2009 - 03:08
JK nampak tenang menghadapi situasi serumit apapun, termasuk hembusan isu capres cawapres 2009. Modal ini yang diperlukan setiap pemimpin untuk menghadapi tantangan masa depan yang penuh tekanan. JK juga satu di antara sedikit tokoh nasional yang mendekati sikap negarawan.
Pernyataan JK dari Washington DC yang mempersilahkan kader Golkar lain untuk nyapres adalah sikap yang elegan. Seharusnya sebagai ketua umum Golkar, JK mempunyai hak lebih tinggi untuk terlebih dahulu mendeklarasikan diri sebagai capres.
Mendapatkan gelar doktor kehormatan (DHC) di bidang perdamaian dari Universitas Soka Tokyo, menjadi tamu pertama Wapres dari luar negeri yang diterima Wapres AS Joe Biden, menerima penghargaan dari pemerintah Belgia atas prestasinya meningkatkan hubungan kedua negara, menjadi langkah-langkah penting JK ke tangga lebih tinggi. Setidaknya JK menunjukkan kemampuan dirinya sebagai negarawan, politisi, pemimpin dan lobier sejati.
JK mungkin sedang berhitung untuk meraih kekuasaan tertinggi dengan resiko minimal, sebagai saudagar dan politisi senior, JK tentu mempersiapkan segala sesuatunya dan bertindak savety tanpa harus terbaca pihak lain termasuk SBY yang tengah 'menyanderanya'.
Banyak pihak yang menilai JK sebagai real leader, lebih kongkrit, rasional, dan memahami apa yang harus dilakukan. JK sepertinya bekerja lebih maksimal dan tidak terlalu peduli dengan pembangunan citranya. JK berani mengambil keputusan sulit, dan menyampaikan kebijakan pemerintah meskipun kurang populis.
Peran besarnya di bidang ekonomi dan penanggulangan ancaman disintegrasi adalah sedikit di antara sekian bukti bahwa JK punya kapasitas dan kegesitan dalam bekerja. Sayang sekali JK seperti menahan diri dari obsesi politiknya, ini berbeda dengan beberapa tokoh nasional yang sudah jauh hari mendeklarasikan diri sebagai capres.
Apakah gerangan dengan JK sehingga tidak mendorong Golkar mencapreskannya? Benarkah terjadi persaingan begitu ketat di internal partai? Ataukah demokrasi kita masih semu sehingga melihat JK sebagai 'orang lain' hanya karena bukan orang Jawa?
Tofiq Amrullah, taufiq_am98@yahoo.com
Senin, 26 Januari 2009
Mengapa Mega Tidak Bertemu Hidayat?
www.inilah.com
Citizen Journalism
Mengapa Mega Tidak Bertemu Hidayat?
Baru-baru ini muncul pemberitaan tentang cawapres Megawati yang paling mungkin untuk mengalahkan pasangan SBY-JK. Muncullah nama-nama seperti Hidayat Nurwahid, Sultan HB, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung dan Sutiyoso. Dengan orang-orang itu, Mega sudah bertemu hampir semuanya, kecuali Hidayat Nur Wahid. Orang-orang mulai bertanya mengapa Mega tidak bertemu Hidayat? Ataukah pertemuannya tidak dipublikasi?
Uniknya, beberapa hasil survei malah menempatkan Mega-Hidayat menjadi pasangan yang paling mungkin mengalahkan SBY-JK atau siapun pasangan SBY. Sampai sekarang baik SBY maupun Mega belum menentukan siapa cawapresnya, JK (dan Golkar?) sudah membuka diri dan seperti menuntut kepastian. Karena calon-calon Wapres juga ingin jadi Capres (JK, Prabowo, Sutiyoso, Sultan HB, Akbar Tanjung).
Jadi kita tidak bisa memprediksi paket-paket pemimpin ini sebelum pemilu legislatif. Bahkan muncul wacana tambahan di luar itu, misalnya paket SBY-HNW, Mega-JK, JK-HNW, Wiranto-HNW, HNW-Prabowo, dan berbagai pikiran lainnya. Saya memprediksi kekuatan terbesar tetap pada SBY dan Mega, namun tingkat golput akan meningkat dengan pilihan itu saja, meski MUI sudah fatwa mengharamkan golput.
Karena itu menarik untuk memperhatikan kemunculan tokoh alternatif yang bakal menjadi kuda hitam di pilpres mendatang. Ciri tokoh alternatif yang diidamkan masyarakat adalah bersih dari korupsi dan tangan kotor masa lalu, muda dan segar, mencirikan pembaharuan, punya kekuatan politik, berangkat dari ide besar, nasionalis, perekat persatuan bangsa dan memiliki solusi pembangunan ekonomi. Beberapa orang relatif mencirikan itu seperti Hidayat Nurwahid, Yuddi Krisnandi, Fadel Muhammad
Kasus Pilkada Jawa Barat membuka mata para elit akan perilaku pemilih. Pemilih saat ini makin cerdas dan anti politik uang. Fakta membalik prediksi bahwa uang, kekuatan politik dan ketokohan bisa meraih kekuasaan. Masyarakat justru memilih pemimpin yang baru, fresh dan energik, bebas dari masa lalu, meski belum cukup pengalaman.
Saya melihat kekuatan alternatif itu ada pada diri Hidayat Nurwahid. Selain menjadi salah satu elit terbaik dari partai tengah, dia Hnw juga memiliki inner power dan dukungan politik yang solid. jika Pks bisa menjadi the big four dalam pemilu legislatif, maka Hidayat bisa berubah menjadi black horse yang sangat diperhitungkan. Tinggal memilih koalisi sesama partai tengah dan seorang cawapres yang nasionalis, serta berdaya dukung sumber daya tinggi.
Semua bisa terjadi, perilaku pemilih saat ini sudah berubah dan menunjukkan rasionalitas tinggi. Jika HNW dan PKS serius menggarap ini, bukan tidak mungkin Indonesia kembali dipimpin kaum muda, masa depan demokrasi dan perubahan di negeri ini semakin baik.
Tofiq Amrullah, taufiq_am98@yahoo.com
Jumat, 23 Januari 2009
JK for president?
Sabtu, 24/01/2009 11:52 WIB
JK Capreskan Diri di Facebook?
Ken Yunita - detikPemilu
dok detikcom
Jakarta - Jusuf Kalla masih malu-malu ketika ditanya apakah dirinya ingin menjadi salah satu capres 2009. Namun di jaringan fenomenal facebook, JK tak lagi sembunyi-sembunyi.
Dengan gamblang, JK jelas-jelas menyatakan mencalonkan diri sebagai presiden. Belum jelas benar siapa pemilik facebook dengan nama Jusuf Kalla for President! itu.
Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Rully Chairul Azwar mengaku belum mengetahui adanya facebook tersebut. "Saya nggak tahu, akan saya cek dulu sumbernya," katanya dalam pesan singkat yang diterima detikcom, Sabtu(24/1/2009).
Di dalam halaman yang memiliki suporter 796 itu, beberapa foto JK terpampang. Beberapa di antaranya foto-foto saat JK syuting iklan dalam rangka ramadan dan Idul Fitri 1428 H.
Di wall-nya, terdapat sejumlah pesan dari orang-orang yang menjadi pendukung JK. Mutia Justisia misalnya. Dia menulis soal anaknya yang selalu menyebut JK sebagai presiden.
"Saya tidak tahu kenapa anakku lebih hafal dengan nama Yusuf Kalla, tiap kali saya tanya siapa nama presiden kita, katanya Yusuf Kalla, mami. Semoga ucapan anakku menjadi doa untuk Pak JK...hidup Pak JK...hidup Indonesia, hidup Sulawesi Selatan dan hidup Bugis Makassar ewako....Pa JK," begitu tulis Mutia.
Lain lagi dengan Saiful Halim dan Yusach Nh. Keduanya mengaku siap menjadi pendukung setia dan tim sukses JK. Bahkan Yusach sampai menuliskan alamat e-mailnya.
Forum diskusi di facebook ini juga cukup ramai. Seperti pada topik siapa cawapres yang cocok menjadi pendamping JK. Nama-nama seperti Prabowo, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Muncul.
"Serius neh, Rizal Ramli, Prabowo, Hidayat Nur Wahid, atau Yudi Krisnandi. Mantap tuh," tulis Taufiq Amrullah. ( ken / djo )
JK Capreskan Diri di Facebook?
Ken Yunita - detikPemilu
dok detikcom
Jakarta - Jusuf Kalla masih malu-malu ketika ditanya apakah dirinya ingin menjadi salah satu capres 2009. Namun di jaringan fenomenal facebook, JK tak lagi sembunyi-sembunyi.
Dengan gamblang, JK jelas-jelas menyatakan mencalonkan diri sebagai presiden. Belum jelas benar siapa pemilik facebook dengan nama Jusuf Kalla for President! itu.
Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Rully Chairul Azwar mengaku belum mengetahui adanya facebook tersebut. "Saya nggak tahu, akan saya cek dulu sumbernya," katanya dalam pesan singkat yang diterima detikcom, Sabtu(24/1/2009).
Di dalam halaman yang memiliki suporter 796 itu, beberapa foto JK terpampang. Beberapa di antaranya foto-foto saat JK syuting iklan dalam rangka ramadan dan Idul Fitri 1428 H.
Di wall-nya, terdapat sejumlah pesan dari orang-orang yang menjadi pendukung JK. Mutia Justisia misalnya. Dia menulis soal anaknya yang selalu menyebut JK sebagai presiden.
"Saya tidak tahu kenapa anakku lebih hafal dengan nama Yusuf Kalla, tiap kali saya tanya siapa nama presiden kita, katanya Yusuf Kalla, mami. Semoga ucapan anakku menjadi doa untuk Pak JK...hidup Pak JK...hidup Indonesia, hidup Sulawesi Selatan dan hidup Bugis Makassar ewako....Pa JK," begitu tulis Mutia.
Lain lagi dengan Saiful Halim dan Yusach Nh. Keduanya mengaku siap menjadi pendukung setia dan tim sukses JK. Bahkan Yusach sampai menuliskan alamat e-mailnya.
Forum diskusi di facebook ini juga cukup ramai. Seperti pada topik siapa cawapres yang cocok menjadi pendamping JK. Nama-nama seperti Prabowo, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Muncul.
"Serius neh, Rizal Ramli, Prabowo, Hidayat Nur Wahid, atau Yudi Krisnandi. Mantap tuh," tulis Taufiq Amrullah. ( ken / djo )
Langgan:
Entri (Atom)

